Berita & Agenda ›

MENGENAL PENGGEREK BATANG TEBU (CHILO SACCARIPHAGUS)
Rabu, 12 Desember 2018 14:28
Ada beberapa penggerek batang pada tanaman tebu yaitu penggerek batang berkilat (Chilo auricillius), penggerek batang bergaris (Chilo saccariphagus), penggerek batang raksasa (Phragmataecia castaneae), penggerek batang abu-abu (Tetramoera schistaceana), penggerek batang jambon (Sesamia inferens) dan penggerek batang kuning (Chilo infuscatellus). Diantara hama penggerek batang tersebut, penggerek batang bergaris merupakan penggerek batang yang paling penting yang hampir selalu ditemukan di semua kebun tebu

Taksonomi penggerek batang bergaris adalah :
Kingdom    : Animalia
Phylum    : Arthropoda
Kelas    : Insecta
Ordo    : Lepidoptera
Famili    : Crambidae
Genus    : Chilo
Spesies    : Chilo saccariphagus
(CABI, 2018)
Penggerek batang bergaris memiliki ciri telur berbentuk oval, datar dan mengkilap dengan panjang 0,75 – 1,25 mm dengan rata-rata   0,95 mm. Masa inkubasi berkisar antara 4 – 6 hari. Telur yang baru diletakkan berbaris di atas permukaan daun ( 9- 12 butir/cm). Ulat yang baru menetas panjangnya ± 2,5 mm dan berwarna kelabu. Semakin tua umur ulat, warna badan berubah menjadi kuning coklat dan kemudian kuning putih. Disamping itu warna garis-garis hitam membujur pada permukaan abdomen sebelah atas juga semakin jelas. Periode ulat berlangsung selama 35 – 54 hari. Ulat berganti kulit sebanyak 5 kali dan memiliki 6 instar. Kepompong penggerek batang agak keras dan berwarna coklat kehitaman. Kepompong betina biasanya mempunyai badan lebih besar daripada yang hantan. Masa kepompong berkisar antara 8 – 10 hari dengan rata-rata 8,28 hari. Ngengat memiliki oseli yang tereduksi. Sayap depan memiliki panjang 12 – 18 mm dan leabar 4,5 – 6 mm. Ukuran tubuh dan abdomen ngengat betina lebih besar daripada ngengat jantan. Ngengat mempunyai sayap dan dada berwarna kecoklatan. Betina dewasa dan jantan memiliki masa 4 – 9 hari dengan rata-rata 6,37 dan 7,22 hari. Jumlah maksimum telur yang diletakkan oleh betina adalah     400 butir. Siklus hidup total dari ngengat sekitar 43 – 64 hari dengan rata-rata 53,5 hari.
Ulat muda yang baru menetas hidup dan menggerek jaringan dalam pupus daun yang masih menggulung, sehingga apabila gulungan daun ini nantinya membuka akan akan terlihat luka-luka berupa lubang gerekan yang tidk teratur pada permukaan daun. Setelah beberapa hari hidup dalam pupus daun, larva kemudian akan keluar dan menuju ke bawah serta menggerek pelepah daun hingga menembus masuk ke dalam ruas batang. Selanjutnya larva hidup dalam ruas-ruas batang tebu. Daun tanaman yang terserang terdapat bercak-bercak putih bekas gerekan yang tidak teratur. Bercak putih ini menembus kulit luar daun. Gejala serangan pada batang tebu ditandai adanya lubang gerek pada permukaan batang. Apabila ruas-ruas batang tersebut dibelah membujur maka akan terlihat lorong-lorong gerek yang memanjang. Gerekan ini kadang-kadang menyebabkan titik tumbuh mati, daun muda layu atau kering. Biasanya dalam satu batang terdapat lebih dari satu ulat penggerek. Setiap adanya 1% keruasakan ruas yang diakibatkan penggerek batang bergaris mampu menurunkan 0,5% bobot tebu. (Prabowo, H dkk, 2013).
Pupa terbentuk setelah larva membuat lobang khusus di bagian ujung lorong gerekan yang ditutupi oleh selaput epidermis sebagai tempat imago keluar. Pupa yang baru terbentuk berwarna putih susu. Menjelang menjadi imago pupa berwarna coklat kehitaman. Panjang pupa hama penggerek batang bergaris berkisar antara 1,4-1,7 cm, di ujung tidak terdapat tonjolan. Panjang pupa penggerek batang berkilat berkisar antara 1,3-1,6 cm, diujung pupa terdapat dua tonjolan kecil. Stadia pupa berkisar antara 11-13 hari. Pupa dan imago serangga hama penggerek batang tebu. Imago penggerek batang bergaris berwarna kecoklatan tanpa bintik hitam di sayap belakang. Imago penggerek batang berkilat, disayap belakangnya terdapat dua bintik hitam. Sayap belakang kedua spesies penggerek batang tersebut memiliki rumbai rumbai. Imago aktif pada malam hari. Hasil penelitian menunjukkan gejala serangan penggerek batang di lapangan tidak dapat dibedakan antara gejala yang disebabkan oleh serangan penggerek batang bergaris atau berkilat. Gejala yang disebabkan oleh kedua spesies serangga hama penggerek batang tersebut jelas terlihat setelah pelepah daun tebu diklentek. Pada bagian luar terdapat tepung bekas gerekan. Jika tepung gerekan masih basah, menandakan bahwa lobang gerekan baru terbentuk, dan larva masih berada di dalam batang tebu.Sebaliknya jika tepung sudah mengering, umumnya hama sudah keluar dari batang tebu atau sudah menjadi imago. (Meidalima, D dan Kawaty, RR., 2015)
    Menurut Salmet, M dkk., (2012) upaya pengendalian yang direkomendasikan adalah dengan menggunakan :
1.    Karantina; peraturan larangan pengiriman bibit antar pulau/daerah
2.    Kultur teknis :
-    Menggunakan bibit/benih yang sehat yang tidak terserang penggerek
-    Menanam varietas tebu yang toleran, misalnya PS 851, PSJT 941, dan PS 881
-    Pengaturan masa tanam sehingga perbedaan masa tanam antara blok yang berdekatan tidak lebih dari satu bulan agar hama penggerek batang tidak pindah dari tebu tua ke tebu muda.
3.    Light trap; untuk memerangkap imago/ngengat penggerek batang
4.    Mekanis, dengan melakukan rogesan pada batang
5.    Hayati :
-    Pelepasan parasitoid telur Trichogramma japonicum
-    Pelepasan parasitoid larva yaitu Apanteles flavipes
-    Lalat jatiroto (Diatraeophaga striatalis)
-    Lalat Sturmiopsis inferens
6.    Kimiawi; dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida berbahan aktif profenofos, karbofuran, asetat, karbaril, fipronil dan kartap hidroklorida.
Mohyuddin (1992) dalam Nurindah dkk., (2016) mengatakan bahwa pelepasan massal T. chilonis dilaporkan dapat menyebabkan parasitisasi telur penggerek batang C. infuscatelus mencapai 98% Sedangkan Achadian et al. (2011) dalam Nurindah dkk., (2016) mengatakan bahwa pelepasan dilakukan dengan melepas 50 pias (@ 2000 ekor) per hektar dilepas setiap minggu pada waktu umur 1–4 bulan atau 16 kali pelepasan

DAFTAR PUSTAKA

CABI, 2018, Chilo sacchariphagus (spotted borer),
https://www.cabi.org/isc/datasheet/44558,
diakses tanggal 28 Desember 2018.

Medialima, D dan Kawaty, R.R, 2015, Eksplorasi dan Pengamatan Intensitas Serangan Hama Penting Tanaman Tebu di PTPN VII, Cinta Manis Sumatera Selatan. Biosaointifika 7 (1),
https://www.researchgate.net/publication/307703758_Eksplorasi_dan_Pengamatan_Intensitas_Serangan_Hama_Penting_Tanaman_Tebu_di_PTPN_VII_Cinta_Manis_Sumatera_Selatan/fulltext/57d8d24a08ae0c0081ee0c7d/307703758_Eksplorasi_dan_Pengamatan_Intensitas_Serangan_Hama_Penting_Tanaman_Tebu_di_PTPN_VII_Cinta_Manis_Sumatera_Selatan.pdf?origin=publication_detail, diakses tanggal 28 Desember 2018

Nurindah, dkk., 2016, Evaluasi pelepasan Trichogramma spp untuk pengendalian penggerek pucuk dan batang tebu, Jurnal Entomologi Indonesia Volume 13 No 2, http://jurnal.pei-pusat.org/index.php/jei/article/view/152/pdf.%20Nurindah_2%20et%20al, diakses tanggal 28 Desember 2018

Prabowo, H, dkk., 2013 Penggerek Batang Bergaris (Chilo saccariphagus Bojer) Hama Penting Tanaman Tebu, Infotek Perkebunan Volume 5 Nomor 5, http://perkebunan.litbang.pertanian.go.id/?p=7196, diakses tanggal 28 Desember 2018

Slamet M, dkk., 2012, Petunjuk Lapang Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) Tebu, Direktorat Perlindungan Perkebunan, Direktorat Jemderal perkebunan, Kementerian 9161Pertanian.


Berita Lain